Astaghfirullah! Ada 776 Foto Porno di Laptop Cucu Pendiri Ikhwanul Muslimin

Tariq Ramadan, profesor Muslim di Univesitas Oxford yang juga cucu pendiri Ikhwanul Muslimin Mesir Hassan al-Banna, dituduh memerkosa dua wanita di Prancis. Foto/Reuters/Mike Segar

Mengagetkan, di dalam laptop dan smartphone cendekiawan yang juga cucu pendiri Ikhawanul Muslimin Mesir Hassan al-Banna, Tariq Ramadan, ada 776 foto porno.

Penyelidikan terhadap laptop dan smartphone tersebut, dilakukan Polisi Prancis, karena Ramadan sedang terjerat kasus dugaan pemerkosaan terhadap sejumlah perempuan.

Ratusan foto asusila yang ditemukan, termasuk foto salah satu perempuan yang menuntutnya di pengadilan atas tuduhan pemerkosaan.

Ramadan saat ini sedang dibebaskan dari penjara di Prancis, melalui pembebasan bersyarat.

Temuan polisi itu dipublikasikan surat kabar Prancis, Le Journal du Dimanche, kemarin. Temuan diungkap setelah pemeriksaan menyeluruh dan analisis data elektronik Ramadan.

Pada Selasa pekan lalu, sebuah laporan rahasia yang diungkapkan oleh radio Swiss, berbahasa Prancis, juga menegaskan tuduhan pelecehan seksual terhadap Ramadan selama dia menjadi pengajar di Swiss.

Sebuah investigasi yang ditugaskan oleh pemerintah Jenewa, diluncurkan untuk menyelidiki dugaan pelecehan di sekolah-sekolah. Fokus penyelidikan terutama pada perguruan tinggi des Coudriers dan perguruan tinggi Saussure di mana Ramadhan mengajarkan bahasa Prancis antara tahun 1984 dan 2004.

Dua perempuan yang menuduh Ramadan melakukan pemerkosaan, adalah aktivis feminis Henda Ayari dan seorang wanita cacat yang dikenal dalam laporan media dengan sebutan “Christelle”.

Ramadan sempat ditahan di Prancis, sejak 2 Februari 2018. Dia dituduh memerkosa para wanita pada tahun 2009 dan 2012 di kamar hotel.

Pada awal kasus ini muncul, cucu pendiri Ikhwanul Muslimin Mesir itu membantah semua tuduhan. Namun, pada Oktober lalu, dia akhirnya mengakui terlibat hubungan seks dengan para wanita di Prancis, yang membuat tuduhan tersebut. Hanya saja, dia mengklaim hubungan seks bersifat konsensus atau tanpa paksaan.

(sindonews.com/suaraislam)