Astaga! Dosen Senior UI: Perekrutan dan Kaderisasi Kelompok Radikal di Kampus Mirip NAZI dan PKI

(Ilustrasi) Mahasiswa Menjadi Sasaran Utama Kelompok Radikal (Foto:bataraonline.com)

Masyarakat sudah menyadari bahaya ancaman radikalisme dan ekstrimisme. Taruhannya adalah bangunan kehidupan berbangsa dan bernegara yang makin terkoyak.

Persoalan radikalisme dan ekstrimisme saat ini sudah pada taraf ancaman yang dapat mengganggu keutuhan negara. Menjadi sulit mengatasinya karena selama ini terkesan aparat negara membiarkan itu terjadi dan terlambat menanggulangi.

Sejak reformasi 1998 bangsa ini sepakat dengan demokrasi. Tapi demokrasi saat ini sudah kebablasan, sebebas-bebasnya. Apalagi banyak yang berlindung di balik HAM. Dulu kalau mendengar kata SARA orang sudah begitu takut, tapi sekarang banyak orang yang terang-terangan melakukan tindakan SARA.

Dosen Senior FISIP Universitas Indonesia (UI) Iriani Sophiaan, dalam penelitiannya tentang radikalisme – yang masih berlangsung – menemukan radikalisme makin tumbuh subur di kampus-kampus. Termasuk Kampus UI.

Menurut Mbak Errie, panggilan akrab Iriani Sophiaan, pola perekrutan dan kaderisasi kelompok-kelompok radikal di kampus-kampus mengikuti pola-pola yang pernah dilakukan NAZI dan PKI. Metode “cuci otak” itu menggunakan cara-cara yang biasa dilakukan di dunia intelijen. Sementara sistem perekrutan dan kaderisasi mirip gayanya dengan sistem perekrutan partai komunis dulu.

Radikalisme sudah mengancam negara dan bangsa. Kampus jadi tempat yang subur, perekrutan berlangsung sejak mahasiswa baru masuk kampus pertama kali. Radikalisme ini terkait dengan politik global dan dimanfaatkan kekuatan kaum kapitalis yang selalu bermain di dua kaki.

Menurut Mbak Errie, untuk mencegah radikalisme dan ekstrimisme pemerintah saat ini secara tegas mulai kembali menguatkan empat pilar fondasi negara: Pancasila, UUD ’45, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI. “Saya lihat Presiden Jokowi serius menguatkan negara dari ancaman radikalisme dan ekstrimisme. Meski upaya itu terbilang cukup sulit karena selama ini terkesan ada pembiaran,” papar adik kandung Sophan Sophiaan ini yang juga mendalami kajian intelijen.

Radikalisme juga telah menguras banyak waktu anak-anak sekarang bersama gawai ketimbang belajar dan membaca buku. Tiap hari anak-anak selama “hampir 24 jam” memegang handphone. Hanya pada saat jam pelajaran di sekolah dan saat tidur saja mereka baru bisa lepas dari handphone.

Dari pola hidup seperti itu mereka banyak menemukan informasi tanpa bimbingan. Perubahan besar terjadi. Anak-anak kehilangan adab. Banyak anak-anak yang sudah tidak takut lagi dengan orangtua dan guru-guru.

Radikalisme di dunia pendidikan sudah mengerikan. Radikalisasi berkedok kegiatan kemahasiswaan yang berbasis agama, sudah menjadi pemandangan umum di kampus-kampus. Bangsa ini butuh mahasiswa yang bisa mengejar ketertinggalan bangsa Indonesia dibanding negara-negara modern lainnya. Butuh mahasiswa-mahasiswa yang ahli sesuai disiplin ilmu masing-masing. Indonesia masih butuh banyak inovator. Butuh orang-orang seperti Nadiem Makarim.

Berita-berita dari seluruh dunia, terutama konflik perang yang terjadi di Timur Tengah, melalui pemberitaan televisi seperti CNN, BBC, Al-Arabiya, Al Jazeera dan lainnya. Banyak hoax dari konflik perang di Timur Tengah yang diadopsi ke Indonesia sebagai berita-berita hoax terkait unsur SARA yang dapat meresahkan masyarakat Indonesia.

Konflik perang yang sebetulnya terjadi di Timur Tengah sesungguhnya adalah rekayasa. Bagaimana mungkin para petinggi kelompok jihadis dari Libya, Suriah, Irak dan lainya, sering bertemu dengan senator dari Amerika Serikat dan pejabat tinggi Turki?

Pemerintah harus hadir dan mengkomando jajarannya untuk memberantas propaganda konflik Timur Tengah, yang ingin dijadikan isu sektarian di negeri ini. Pemerintah harus bersatu padu dalam menanggulangi radikalisme dan ekstrimisme yang saat ini sudah mengancam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Masalah radikalisme dan ekstrimisme itu berat. Butuh kerja keras untuk menanggulanginya, bukan main-main.

(arrahmahnews/suaraislam)