Arus Balik Hijrah

Ilustrasi (Google image)

Hijrah sedang ngetren. Apapun yang berbau Islam pasti laku dijual. Mulai dari busana muslim, perjalanan umroh dan haji, buku Islam, makanan halal, sekolah Islam, hotel syariah, sampai make-up halal pun diminati banyak orang. Politik, tentu saja, masuk di sini.

Meningkatnya kesadaran akan agama tentu saja menarik untuk diamati. Salah satu hal yang menjadi pertanyaan adalah: ke mana tren hijrah ini akan mengarah?

Pertanyaan ini menjadi penting karena ada kekhawatiran hal ini mengarah ke semakin ekstremnya pandangan orang dalam beragama. Bahkan ada yang mengkhawatirkan Indonesia akan menjadi seperti Suriah atau Irak.

Kekhawatiran itu bisa dimaklumi, karena ada sejumlah indikasi ke arah beragama yang lebih ekstrem. Misalnya, toleransi antar-umat dan antar-mazhab yang makin tipis. Kita cenderung beragama dengan hanya mengenal satu golongan, tidak beragam. Persekusi terhadap kelompok yang tidak menjalankan Islam sesuai versi tertentu juga kerap terjadi. Unjuk kekuatan dan bully secara verbal kita jumpai di mana-mana.

Meski khawatir akan semakin ekstremnya pemahaman beragama kita, saya termasuk yang tidak khawatir Indonesia akan menjadi seperti Suriah atau Irak. ISIS berkembang di kedua negeri itu karena Suriah dan Irak sudah terlebih dahulu masuk dalam konflik. ISIS muncul setelah konflik, bukan sebelumnya. Konflik itu sendiri dipicu oleh hal lain. Negara yang sedang carut marut dan berperang adalah ladang yang subur bagi ISIS.

Meski demikian, tetap saja kekhawatiran akan semakin ekstremnya kita dalam beragama tetap ada. Mungkin tidak menjadi seperti Suriah dan Irak, tapi tetap saja perlu diwaspadai.

Tapi, di luar itu, ada kemungkinan lain yang juga perlu kita lihat. Kemungkinan yang saya sebut sebagai “Arus Balik Hijrah”. Saya justru melihat, tren ini akan menyusut. Ada antiklimaks yang akan terjadi.

Hal inilah yang saat ini terjadi di banyak negara di Timur Tengah. Di sejumlah negara seperti Tunisia, Iran, Turki, dan Mesir, arus balik ini sudah mulai terjadi meski belum besar. Anak-anak muda di banyak negara itu mulai mencari sendiri sumber kebenaran. Ada pengenduran dalam beragama karena mereka tidak puas dengan apa yang selama ini mereka terima.

Di Turki, menurut survey yang dilakukan oleh Konda, terjadi peningkatan orang yang tidak percaya pada agama hingga tiga kali lipat dalam 10 tahun terakhir. Penyebabnya, seperti yang dilansir oleh Deutsche Welle, adalah kekecewaan mereka pada penerapan Islam dalam kehidupan sehari-hari. Juga pada Islam politik. Dalam laporan lainnya yang dilansir oleh BBC disebutkan bahwa selain menjadi atheis, mereka juga menjadi agnostik (percaya Tuhan tapi tidak beragama) atau memeluk agama pagan dari masa lalu.

Di Suriah dan Irak, arus perlawanan terhadap ISIS sudah lama dilakukan dan itu yang membuat kekuasaan ISIS menyusut hingga tersisa hanya 10 persen. Dukungan masyarakat juga jauh berkurang karena mereka melihat hal tidak Islami yang sehari-hari dilakukan oleh para pendukung ISIS.

Bahkan Afghanistan saat ini sudah sangat berbeda dengan Afghanistan 15 tahun lalu saat saya ke sana. Saat itu saya tidak pernah melihat wajah perempuan di jalanan, apalagi melihat mereka sekolah dan pergi ke universitas. Kini (terutama di kota besar seperti Kabul), perempuan relatif lebih bebas, meski baru sebagian kecil.

Bagaimana dengan di Indonesia? Arus balik yang terjadi di sejumlah negara itu mungkin belum terlihat. Tapi, ada sejumlah indikasi yang membuat kita perlu juga mencermatinya.

Pertama, adanya pengenduran berislam pada generasi kedua dari orang-orang yang berhijrah. Anak-anak mereka ternyata tidak “seketat” ayah-ibunya. Bahkan dalam sejumlah kasus, mereka mencoba berontak dan keluar dari cara beragama orangtua mereka.

Setidaknya mereka jauh lebih santai. Jika orangtua mereka menjauhi musik, generasi kedua ini mulai menerimanya. Jika orangtua mereka menikah terpisah (pria dan wanita), anak-anaknya sudah mulai tidak melihat itu sebagai sesuatu yang penting. Dan lain sebagainya.

Hal ini mungkin terkait dengan indikasi kedua, yaitu pencarian yang tidak membuahkan hasil. Orang ramai-ramai berhijrah karena mereka putus asa dengan kehidupan (tanpa agama atau minim agama) yang mereka jalani selama ini. Ada harapan ketika memeluk Islam lebih kuat, kekosongan batin dan spiritual akibat kehidupan modern yang kering dan tergesa-gesa, bisa terisi.

Masalahnya, apa yang ditemui kemudian bukan pengayaan spiritual. Kebayanyakan kajian berkutat pada masalah ritual dan syariah. Bukannya syariah tidak penting, tapi berkonsentrasi pada hukum akan membuat tujuan mereka berhijrah akan terpinggirkan. Pencarian akan kekosongan batin, pada sebagian orang, mungkin tidak menemukan jawabannya.

Sayangnya lagi, dalam kehidupan sehari-hari pengayaan pengetahuan akan syariah itu kerap tidak berimbas pada perilaku. Beragama meningkat, tapi korupsi tetap tinggi di masyarakat, kekerasan justru dilakukan atas nama agama. Sekali lagi jangan salah sangka. Bukannya orang-orang di luar yang beragama tidak melakukan hal itu. Tapi, saat itu dilakukan oleh orang yang beragama, akan muncul kekecewaan pada ekspektasi yang sudah mereka bangun.

Ketiga, sejumlah pemuka agama belum siap untuk memberikan jawaban atas persoalan hidup. Bahkan, ada yang justru memberikan contoh yang kurang berkenan. Ada pemuka agama yang akun media sosialnya penuh cacian dan hinaan, tidak santun dalam berceramah, emosional dan gampang main tangan, dan lain sebagainya.

Belum lagi yang hanya memanfaatkan umat untuk mendapatkan suara dalam pesta politik. Saya tidak bicara kubu siapa yang melakukan ini, karena bisa terjadi pada siapapun.

Keempat, kita tidak hidup di dunia tertutup. Umat bisa menerima informasi dari manapun. Meski kerap terkungkung oleh informasi dari kelompok tertentu, mereka sebenarnya bisa mendapatkan informasi penyeimbang dari manapun. Peluang ini, cepat atau lambat akan membuat mereka membandingkan apa yang selama ini mereka dapatkan dengan informasi lain.

Lalu, bagaimana agar itu tidak terjadi?

Tentu, hal yang paling mendasar adalah bagaimana agama dapat dihadirkan sebagai salah satu sumber kebahagiaan, solusi untuk kesempitan hidup,bukan sebaliknya. Menjadi sumber cinta kasih dan perdamaian, bukan menjadikannya sebagai dasar permusuhan. Menjadikan agama sebagai sumber kesantunan, bukan alasan untuk melakukan caci maki.

Karena yang mereka cari, juga yang dicari oleh semua manusia, adalah ketenangan dan kebahagiaan. Orasi berapi-api dan keras-kerasan mungkin laku di awal-awal euforia, tapi dalam jangka panjang hal itu pasti akan ditinggalkan.

Kembalikan Islam sebagai agama yang mementingkan akhlak, maka agama tidak akan ditinggalkan. Bukankah Rasulullah SAW bersabda: “Aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia.” Bukankah Allah berfirman: “Dan Aku tidak mengutusmu (MUhammad) kecualli untuk menjadi kasih bagi semesta.” Jika kedua hal ini tidak dilakukan, arus balik hijrah pasti akan terjadi.

Qaris Tajudin

Sumber FB Qaris Tajudin

(suaraislam)