Aroma Orba di Kubu Prabowo

Inilah kubu koalisi paling beragam dan sarat dengan berbagai kepentingan dan ideologi. Ada kubu refomis, Prof Amien dan gerbongnya. Tapi juga ada kubu Orde Baru yang mulai ketakutan karena kekayaannya mulai diusik, penanda status quo mulai dari mbak Titik, Mas Tomy dan seluruh keluarga dan kroninya. Juga Ada halaqah-halaqah ulama dari berbagai manhaj: ulama FPI, ulama PKS dan HTI. Yang kemudian disebut Islam garis keras, sebab mengadopsi ideologi Islam transnasional dan kerap dikriminalisasi.

Ada juga kubu Nasionalis: Demokrat dan Gerindra. Keduanya juga kerap bersilang kata. Dan bersaing ketat pada 2024 antara Sandi dan AHY. Dan semua yang kecewa pada rezim berkuasa. Inilah koalisi paling berat dan sarat kepentingan.

Koalisi bukan fusi kata SBY. Sebab koalisi tak harus menafikkan keberadaan partai koalisi yang tergabung. Kita menangkan Pileg duluan kemudian Pilpres kata SBY tegas. Siasat cerdik, begitulah seharusnya berpolitik. Jadi tak salah jika Demokrat masih ragu mengkampanyekan Prabowo dan Sandi dan enggan bayar urunan untuk biaya kampanye, meski dijawab buru-buru belum waktunya. Demokrat punya cara sendiri yang berbeda, katanya pendek.

*^^^*
Maka tak heran jika ada banyak tawaran yang diberikan meski terkesan tidak ada koordinasi seperti halnya janji gaji guru 20 juta sebulan dari PKS yang segera dianulir oleh Prabowo. Pun dengan janji pembebasan pajak bermotor dan SIM seumur hidup yang tak pernah diucap oleh Prabowo maupun Sandi. Mungkin PKS gemas karena Prabowo tak kunjung membuat program selain pidato ketakutan dari asupan informasi hoax yang kerap menjadi blunder. Tak terbayang jika pemimpin mengambil kebijakan dari data yang tidak valid karena kawanan Sengkuni ada disekitaran.

Para ulama yang tergabung juga bergerak sendiri. Dengan berbagai kepentingan dan indikator yang hendak dicapai. FPI sedang mengukur kekuatan seberapa banyak yang masih loyal terhadap seruan Imam besar Habib Rizieq di pengasingan. Reuni 212 pun di gelar. Untuk siapa ? Tidak penting jawaban, ini hanya politik simbol, siapapun boleh mendapatkan barakah. Tidak HTI, FPI, PKS atau siapapun aliran dan manhaj.

Lantas Islam dapat apa? Ini juga klise sebab Islam tak butuh apapun. Tapi sebaliknya kita yang butuh. Lantas untuk apa semua itu. Perubahan. Inilah yang langgeng. Semua kita akan berubah termasuk kekuasaan. Tidak ada yang abadi selain perubahan itu sendiri.

*^^*
Semua ada momentumnya dan tidak berulang. Pak Harto pernah punya momentum selama orba. Pak Amien pernah punya momentum saat bersama mahasiswa menggulung rezim yang kemudian lebih dikenal dengan masa reformasi. Itulah sejarah, sayangnya tak lagi bisa diputar ulang. Setiap momentum selalu ada aktor nya.

Membangkitkan kembali orde baru saya pikir klise sebab tak ada lagi perangkat yang menyertai. Prabowo mungkin harus kembali berpikir ulang. Sebab pernyataan nya kerap kali menjadi blunder termasuk mbak Titik mantan istrinya yang tak pernah hidup miskin. 50 ribu tak cukup dapat seporsi bakso katanya.

Sementara Kami bisa dapat lima porsi bakso berikut teh manisnya. Mungkin mbak Titik belinya di hotel bintang lima atau tempat lain yang berharga mahal, tapi itu bukan kami … kemana saja mbak Titik dan mas Tomy saat kami hidup melarat, tiba-tiba fasih bicara tentang kesenjangan, dan datang menjadi pembela kaum miskin .. sebab rakyat sudah tak perlu orba lagi .. ..

@nurbaniyusuf
Komunitas Padhang Makhsyar

FB: Nurbani Yusuf

(suaraislam)