AR, Armagedon & Baratayudha

Amien Rais namanya makin merosot tajam. Nyungsep ke comberan. Tak lagi bisa disebut politikus, apalagi negarawan, sejak lebih banyak pernyataannya yang menunjukkan kepanikan tingkat dewa, kegusaran dan kekalapan yang parah. Mungkin karena mimpi menjadi Wantimpres Prabowo, yang rasanya lebih mencemaskan (sekiranya hal itu benar-benar tidak terjadi).

Setidaknya, lima tahun ke depan, ia akan makin kehilangan panggung. Sekaligus kehilangan wibawa, sekiranya terus saja nekat. Memproduksi pernyataan-pernyataan provokatif, yang sama sekali tak mencerminkan spirit demokrasi.

Di depan peserta Muktamar Pemuda Muhammadiyah XVII di Yogyakarta, Amien bicara soal pilpres (2019), sebagai perang Baratayuda dan Armageddon. “Ini permainan memang tinggal empat setengah bulan lagi. (Tanggal) 17 April itu adalah pertaruhan yang terakhir, apakah unsur-unsur PKI akan menang ataukah sebaliknya,” kata Amien (30/11).

Pernyataannya sungguh insinuatif, apalagi tanpa mengutarakan argumentasi. Apa maksud mengenai ‘unsur-unsur PKI yang akan menang atau sebaliknya’? Jika Pilpres hanya memunculkan Jokowi dan Prabowo, sementara Amien berada (dan ikut bermain) di kubu salah satu capres, Amien sedang melakukan black-campaign. Pada para anak muda Muhammadiyah, Amien mengatakan, “Jadi kita harus betul-betul konsolidasi!” Sama sekali tak kondusif dengan ajakan awal untuk pemilu yang damai dan gembira.

Seperti biasa, ketika petinggi ngomong ngawur, para bawahan yang akan kerepotan. Membuat dalil dan interpretasi baru, yang mengabaikan logika dan konsistensi sikap. Persis ketika Prabowo membuat pernyataan blunder, juga Sandiaga. Buru-buru para staf ahli bayaran mereka melakukan klarifikasi. ‘Armageddon’, yang dimaksud Amien, kata bawahannya, ialah ‘pertarungan gagasan’ antar capres-cawapres. “Bukan pertarungan secara fisik sepeti kita lihat konsep Armagedon itu kan pertarungan secara fisik, pertarungan life and death. Bagi kami ini pertarungan adalah the battle of ideas,” kata Waketum PAN Bara Hasibuan (3/12).

Duluuuu, 30 Nopember 2017, Amien Rais di depan peserta Kongres Alumni 212 di Jakarta, sudah menegaskan sikapnya; “Biarlah anjing menggonggong kafilah berlalu. Kepada para kecebong, teruskan percebonganmu, tapi kita tetap menuju tujuan kita.” Dalam sambutannya itu, Amien Rais menekankan pentingnya tekad kalangan Muslim memperjuangkan Islam. “Nabi Nuh dalam seratus tahun baru satu orang yang jadi pengikut. Kita ini cuma ditantang ‘cebong-cebong’. Itu biasa, kita enggak boleh takut,” kata Amien Rais.

Dari pidatonya yang paranoid itu (memang siapa sih yang mengancam Islam? Kok ringkih banget, diancam kecebong –pakai logika AR- ketakutan, gulung koming), Amien Rais merupakan sosok paling perlu dikasihani. Bahkan, di kubu Prabowo dan PAN pun, ia menjadi unsur negatif.

Sumber: FB Sunardian Wirodono

(suaraislam)