Apakah Generasi Milenial Merayakan Maulid?

68
@GunRomli

Apakah Generasi Milenial merayakan Maulid Nabi? Pertanyaan ini saya peroleh dari beberapa percakapan di media sosial, karena selama ini Maulid seperti diidentikkan dengan golongan tua. Iya, Maulid dikenal sebagai tradisi, maka tradisi pun dianggap hanya dirawat oleh kalangan tradisionalis yang sering disebut sebagai golongan tua.

Sedangkan Milenial adalah generasi zaman now. Generasi Milenial disebutkan oleh beberapa peneliti sebagai generasi yang lahir setelah tahun 80-an.

Selain itu asumsi lain, Generasi Milenial yang tumbuh dan besar di Perkotaan yang mulai terpapar radikalisme dan puritanisme yang lebih kencang menganggap Maulid bukan hal yang penting atau menarik untuk dirayakan, bahkan yang sudah terjangkiti virus radikal yang akut dengan ikut-ikutan membid’ahkan dan mengharamkan Maulid.

Tapi, benarkah asumsi di atas, benarkah Generasi Milenail jauh dari tradisi Maulid?

Menurut penelitian “Syaikhul Milenail” Hasanudin Ali dalam bukunya “Millenial Nusantara” asumsi di atas keliru besar. Fakta yang ditemukan di lapangan bertentangan dengan asumsi di atas.

Temuan itu hasilnya tidak main-main, hampir semua Generasi Milenail Indonesia merayakan Maulid. Menurut survei “90.1 persen Milenial Indonesia merayakan Maulid.” Artinya hanya 9.9 persen yang tidak merayakan.

Temuan ini sungguh mengejutkan, artinya Tradisi Maulid diterima semua golongan dan aliran keislaman, dan dugaan saya, Generasi Milenal yang berasal dari “Keluarga Radikal” diam-diam merayakan Maulid, karena besarnya temuan hasil survei yang menunjukkan Generasi Milenal merayakan Maulid.

Mengapa demikian? Bukankah Maulid termasuk tradisi yang hanya akrab dengan golongan tradisionalis saja?

Saya bisa mengajukan bukti bahwa Maulid bisa diterima oleh semua golongan karena telah menjadi budaya yang menembus sekat-sekat golongan dan aliran. Artinta, Maulid tidak lagi identik dengan Kalangan Tradisionalis.

Maulid telah menjelma budaya massa atau budaya populer yang digemari semua kalangan melalui seni lagu dan norma sosial.

Merayakan Maulid adalah bukti cinta kita kepada Nabi, ini telah menjadi norma sosial yang tidak bisa dibantah dan dibendung oleh mereka yang mengharamkan Maulid.

Tidak akan pernah diterima akal sehat dan nurani kita, bahwa merayakan kelahiran Nabi dan Rasul, Sang Penyelamat, Manusia Sempurna dan Tokoh Pujaan kita dituduh haram dan bid’ah.

Ini tuduhan yang kebangetan, bahkan bisa berbalik pada penuduhnya, yang bisa diragukan kadar iman Islamnya dan cintanya pada Rasul kalau dengan lancang dan kurang ajar menuduh merayakan Maulid dianggap haram.

Merayakan Maulid adalah bukti kita cinta Rasulullah Saw. Ini norma sosial yang tidak bisa dibantah. Generasi Milenial langsung nyambung dengan kenyataan ini, karena mereka di sini lain, pastilah memiliki sosok yang diidolakan, baik penyanyi, musisi, artis, pahlawan olah raga, dan lain sebagainya. Maulid dibahasakan dalam ekspresi cinta dan mengidolakan Rasulullah Saw sangat nyambung dengan nalar Milenial.

Selain itu, Maulid identik dengn pujian-pujian terhadap Rasulullah Saw yang dikenal dalam shalawat. Dalam masyarakat muslim, shalawat identik dengan “lagu Islam”, ada kebanggaan terhadap identitas ini dan tak jarang dijadikan sebagai musik alternatif dan perlawanan terhadap musik-musik lain. “Kalau mendengarkan lagu-lagu yang biasa, kita hanya terhibung, tapi kalau kita mendengarkan senandung shalawat selain terhibur, kita juga dapat pahala.” Ini dogma yang sering kita dengar untuk mempopulerkan shalawat.

Dan shalawat beserta pujian-pujian Rasul telah masuk budaya massa, melalui lagu-lagu yang lintas songre. Dari yang hanya acapela yang dikenal sebagai nasyid tanpa alat musik, hingga alat-alat musik tradisional, hadrah, hingga ansambel lengkap untuk melagukan shalawat.

Lagu-lagu shalawat diterima semua kalangan, dari perkotaan hingga pedesaan, mengimbangi popularitas lagu-lagu yang umum. Pelantunnya pun selalu lahir dari generasi-generasi baru, dan setiap kelas sosial memiliki bintang sendiri yang melantunkan shalawat.

Fenomena Haddad Alwi dan Sulis yang lagu-lagunya populer dan digemari mulai kalangan anak-anak, hingga lintas usia. Penceramah seleb seperti Opick dan Alm Uje juga memasyhurkan shalawat. Pelantun lain seperti Wafiq Azizah yang seperti Sulis meski sudah bukan anak-anak lagi, tapi lagu-lagu mereka saat masih kanak-kanak tetap populer dan nikmat didengarkan.

Kalangan yang sering dianggap sebagai “modern” dan “perkotaan” yang sebelumnya tidak peduli pada Shalawat, telah memiliki bintang seperti Maher Zain. Saya menyaksikan generasi yang lahir dari keluarga yang sebelumnya tidak mau Maulid dan baca shalawat, gara-gara Maher Zain anak-anaknya dan kini orang tuanya menggemari Shalawat.

NU dan Pesantren, sebagai basis kalangan tradisonalis juga menyumbangkan bintangnya terhadap Generasi Milenial Pesantren, misalnya dari fenomena Habib Syech, Grup Shalawat Langitan hingga Bintang Hadrah saat ini, Grup Shalawat Syubbanul Muslimin Gus Azmi Askandar dengan suaranya yang merdu dan wajahnya yang rupawan menyita perhatian di media sosial dan lagu-lagunya mudah viral.

Dan media sosial semakin memperkuat popularitas shalawat sebagai budaya massa, yang sebelumnya sudah populer melalui generasi kaset, kemudian CD, VCD hingga DVD, melalui media massa seperti radio dan televisi, saat ini semakin diperkuat dengan media sosial.

Maka, suara yang mengharamkan Maulid itu seperti teriakan di tepi pantai, yang langsung hanyut terjangan angin laut shalawat yang memenuhi ruang samudera nan luas.

Maka dengan fenomena ini, sangat masuk akal kalau Generasi Milenial hampir semuanya merayakan Maulid.

Merayakan Maulid telah menjelma sebagai norma sosial dan bukti ekspresi cinta Nabi, serta mengidolakan sosok sangat akrab dengan karakter Milenaial. Dan yang lebih kuat lagi melalui fenomena shalawat, Maulid telah menjadi kekuatan yang agung dalam tradisi masyarakat, melalui budaya massa dan kemudian semakin diperkokoh dengan gelombang media sosial saat ini.

Mohamad Guntur Romli

(suaraislam)