Analisa Kenapa Aburizal Bakri dan TV One Akhirnya Dukung Jokowi

Aburizal Bakri alias Ical dalam empat tahun terakhir kelelahan. Lewat TV One miliknya, ia terus-menerus menyerang Jokowi. Segala kekurangan Jokowi selalu dikuliti, diiris dan dicincang di TV One. Hasilnya, TV One menjadi idola bagi yang anti Jokowi. Saking ekstrimnya TV One menyerang Jokowi, otak para anti Jokowi sukses dicuci. Munculah syahdat iman sebagian masyarakat yang meyakini bahwa TV One adalah TV yang benar.

Kehandalan TV One mencuci otak pemirsanya semakin lengkap dengan program ILC yang dimotori oleh Karni Ilyas. Di sana Karni Ilyas diyakini sebagai Panglima Perangnya Ical gencar memprovokasi masyarakat dengan menggoreng isu-isu yang menerpa pemerintah.

Selama empat tahun pemerintahan Jokowi, Ical bersama TV One-nya berjuang habis-habisan untuk menjatuhkan Jokowi. Hasilnya? Gagal total. Jokowi tidak bisa dijatuhkan. Justru sebaliknya, Ical-lah yang kehabisan energi, kelelahan dan bahkan terluka ketika menyerang Jokowi. Apalagi Ical sebelumnya di tahun 2006, terluka parah akibat Lumpur Lapindo.

Jika menilik ke belakang, maka Lapindo adalah luka menganga terbesar Ical. Semburan Lapindo yang terjadi pada tahun 2006 telah berbuah malapetaka besar. Ical terus bertanya kepada Khaliknya, apa dosanya sampai perusahaannya Lapindo tiba-tiba menyebabkan semburan luar biasa itu?

Energi Ical terhambur banyak menangkis hujatan, makian dan hinaan masyarakat. Hartanya pun tergerus besar mengganti kerugian akibat Lumpur Lapindo itu hingga tahun 2015. Sementara Lapindo sendiri tak membuat untung dan terus menimbulkan kerugian. Utang Ical pun menggunung. Semburan Lapindo telah menjadi awal luka dan kebangkrutannya.

Walaupun Lapindo melukai Ical, namun berkat kedekatannya dengan SBY, Ical untuk sementara berhasil berkelit mengganti kerugian masyakarat akibat semburan Lapindo. Bahkan awal tahun 2008 Ical sempat menjadi orang terkaya di Indonesia menggeser orang terkaya sebelumnya. Apes bagi Ical, menjelang akhir 2008, dunia dilanda krisis ekonomi.
Pelemahan Perekonomian global akhir tahun 2008, telah membuat IHSG merosot. Saham-saham Ical terjun bebas. Permintaan Ical kepada Sri Mulyani dan Budiono agar menghentikan transaksi saham IHSG di Bursa Efek Jakarta saat itu, tak digubris. Ical pun marah. Meriamnya mulai mengarah kepada Sri Mulyani, Menteri Keuangan RI saat itu dan Wapres Budiano.

Dengan cengkramannya yang begitu kuat di Golkar yang direbutnya pada tanggal 8 Oktober 2019, Ical dengan mudah mencari alasan untuk mendepak Mulyani. Kasus Century yang melibatkan Mulyani pun menjadi sarana menggairahkan Ical untuk mendepak Mulyani. Dan ia pun menang. Lewat Pansus Century yang terbentuk akhir Desember 2009, Ical memaksa SBY untuk mendepak Sri Mulyani.
Akan tetapi Pansus Century itu telah menimbulkan luka di hati SBY yang kehilangan muka saat itu di DPR. Hal yang kemudian dibalas dengan sepadan SBY saat Ical terpaksa menelan ludahnya terkait Pilkada lewat DPRD. Walaupun Ical berhasil mendepak Sri Mulyani, perusahaan Ical yang terus merugi tak bisa dibendung. Sementara itu utang Icalpun terus menggunung.

Luka Lapindo, perusahaan terus mengalami kebangkrutan dan terdepak dari 30 besar orang terkaya RI, membuat Ical mencari penyembuhan baru. Ical lagi-lagi terluka. Obatnya hanya satu, menjadi Presiden Republik Indonesia. Dengan menjadi Presiden, mudah bagi Ical menyembukan luka perusahaannya. BUMN-BUMN adalah jawabannya. Kue lezat BUMN jika bersinergi dengan perusahaannya, dapat menjadi antibiotik hebat bagi lukanya. Itulah impian Ical yang terbesar dalam hidupnya, menjadi orang nomor satu di negerinya.

Namun pendekar kurus nan sakti, Jokowi dari Solo, membuyarkan impian Ical. Bahkan calon favorit Ical, Prabowo yang dia dukung mati-matian, kalah dengan Jokowi. Jokowi di tahun 2014 tak terbendung untuk menjadi Presiden Republik Indonesia.

Tak ada jalan lain bagi Ical. Pilihan satu-satunya adalah melakukan penjegalan Jokowi di DPR. Ical bersama Akbar Tanjung, Prabowo dan Amin Rais membentuk Koalisi Permanen di DPR. Impiannya adalah menentukan segala kebijakan pemerintah, menjegal dan meng-impeachment Jokowi.

Awalnya Ical dan kawan-kawan berpesta pora menikmati kemenangan. UU MD3, Pilkada lewat DPRD dan pimpinan DPR dan MPR serta alat-alat kelengkapannya, berhasil diraup Ical dan kawan-kawan. Saking mabuknya Ical dan merasa lukanya sudah sembuh, ia lupa bahwa Jusuf Kalla, lawan bebuyutannya, sudah kembali ke medan tempur.

Ical juga memandang remeh bahwa di internal Golkarnya sudah mulai ada riak-riak menjelang habis masa baktinya di Golkar. Ia lupa faktor Agung Laksono, Priyo Budi Santoso, Yorris dan kawan-kawan. Dan benar saja, Ical lewat Nurdin Halid berhasil melaksanakan Munas di Bali tanpa hambatan dan menahbiskannya kembali sebagai ketua Golkar.

Akan tetapi langkah Ical itu diimbangi dengan insting politik luar biasa Kalla yang telah kembali menjadi Wapres. Kalla yang pernah dipecundangi Ical, dengan lihai memerintahkan Agung Laksono, Priyo Budi Santoso dan kawan-kawan yang tersingkir dari Munas Bali, melaksanakan Munas Ancol sebagai tandingan. Ajaib, Munas Ancol berhasil dilaksanakan, lalu diputuskan oleh Mahkamah Partai Golkar sebagai Munas yang sah dan segera mendapat SK pengesahan kepengurusan dari Menkumham.
Mulailah Ical terluka lagi. Kali ini lukanya sedemikian besar karena Golkar di tangannya terus bergolak dan dirongrong. Siapa yang melukai Ical kali ini? Tentu saja Jusuf Kalla. Jusuf Kalla, kendatipun sudah berumur 75 tahun, tetapi ia adalah pendekar politik yang ulung.

JK berhasil membuat KMP sibuk dengan konflik di internal mereka sehingga tidak fokus untuk menyerang kebijakan pemerintah. Program pemerintah dalam membangun infrastruktur pun berjalan lancar tanpa hambatan di parlemen.
Pecahnya Golkar yang disusul kocar-kacirnya KMP telah membuat Ical lagi-lagi terluka. SK Menkumham bagi Munas Ancol dan tidak kunjung disahkannya Munas Bali telah membuat Ical mulai menjerit. Pertarungan Ical di pengadilan juga telah membuatnya cukup berdarah-darah namun hasilnya sama sekali tidak memuaskan.

Berhadapan dengan pemerintah yang dimotori oleh JK, Ical terus melemah. Manufer JK yang sehaluan dengan Mahkamah Partai Golkar, turun gunungnya Habibie dan merapatnya Mahaguru Golkar Akbar Tanjung, telah membuat Ical terus menjerit.
Merasa dikeroyok dari berbagai lini, Ical pun mulai menyerah. Sisa-sisa tenaganya ia kerahkan dalam Rapimnas Golkar Munas Balinya 23-25 Januari 2016. Hasilnya, Ical terpaksa menyerahkan Golkar kepada Setya Novanto. Namun cengkraman Setya Novanto tidak lama. Walaupun ada drama bakpao, Setya Novanto tetap meringkuk di penjara akibat korupsi akut.

Kini Golkar dikendalikan oleh Airlangga Hartarto, menteri Jokowi. Golkarpun sudah menyatakan dukungan kepada Jokowi. Ical sepertinya sudah terlalu lelah untuk melawan Jokowi pada Pilpres 2019. Apalagi segala perlawanan yang ia lakukan lewat TV One-nya, sepertinya tak membuahkan hasil maksimal. Oleh karena itu Ical kini sadar akan realita politik.

Lewat Sekretaris Jenderal Partai Golkar Lodewijk Freidrich Paulus, Ical yang menjabat sebagai Ketua Dewan Pembina Partai Golkar Aburizal Bakrie dinyatakan mendukung pasangan calon nomor urut 01 Joko Widodo-Ma’ruf Amin di Pilpres 2019. Hal itu disampaikan Lodewijk menanggapi pertemuan Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf dengan Aburizal, Senin (8/10/2018).

Lalu mengapa Ical –TV One akhirnya mendukung Jokowi? Ada tiga alasannya. Pertama, sudah lelah melawan Jokowi, kedua, pertimbangan bahwa lebih banyak untungnya jika ada di barisan Jokowi dan ketiga, pada pilpres 2019, Jokowi sangat berpeluang menang ketimbang Prabowo.

Tentu saja dukungan Ical kepada Jokowi akan serta- merta diikuti oleh TV One yang dia miliki bersama Erick Thohir. Dengan demikian bisa dipastikan bahwa ke depan TV One akan pelan-palan berubah dari TV Kampret menjadi TV kecebong.

Saya tidak bisa memprediksi kesedihan mendalam para pemuja TV One sebelumnya ketika kini sudah berubah mengikuti tuannya mendukung Jokowi. Hanya rasa yang mengharu-birukan dengan tetesan air mata buaya yang kualami.

#JokowiLagi

Salam Seword,
Asaaro Lahagu

Sumber: FB Muhanto Hatta

(suaraislam)