Amien Rais, Ganti Presiden dan Guyonan Gus Dur

Ketiganya menjadi saksi penting reformasi dan perubahan kekuasaan dari Soeharto dan Orde Baru. Kini, setelah hampir 20 tahun, bagaimana perubahan terjadi antara Amien Rais dan Megawati. Yang pasti, Gus Dur tampaknya melihat keduanya dengan tertawa seperti biasanya. Pict by Reuters

“Jadi Anda itu sekarang perlu berdoa tiap sore ya tiga menit saja ‘Ya Allah semoga engkau memberikan bangsa yang tercinta ini sebuah presiden baru yang cinta kepada agamamu, yang tidak akan mengkriminalisasi ulama, tidak akan menjual kekayaan bangsa ke asing dan Aseng. Kalau belasan juta tiap hari itu berdoa, Allah malu tidak mengabulkan,” tutur Amien Rais di CNN dan menjadikannya ramai, walaupun akhirnya ia ralat dengan sebuah penjelasan konteks dan dalil.

Meskipun begitu, pernyataan itu bagi saya tetap saja mengundang tawa. Saya sejatinya juga tidak terlalu peduli, apakah ia mau curi start berkampanye atau apalah. Bagi saya, ada yang lebih menggelikan dari itu, yakni membawa-bawa nama Tuhan untuk urusan presiden. Sudah sepuh harusnya kian bijak, bukan makin menjadi, harusnya banyak doa eh makin “sakti”.

Setelah ramai soal partai Setan dan Allah yang juga ramai tempo hari, pernyataan Tuhan malu itu sungguh tidak masuk akal bagi saya. Bagaimana mungkin yang maha segala dan paling berhak mengatakan “suka-suka gue” dibuat merasa malu hanya karena urusan duniawi? Ah ada-ada aja.

Ini cuma urusan ganti presiden. Sekali lagi, urusan ganti presiden guys! Artinya Tuhan dibawa dalam arus urusan politik kekuasaan. Apalagi yang alasan ganti presiden yakni, pertama, mau presiden baru yang cinta kepada agama, berarti kesan bahwa presiden sekarang tidak cinta pada agama. Cinta itu urusan hati, dalamnya lautan bisa diukur tapi dalam cinta tiada yang tahu.

Kedua, mengkriminalisasi ulama. Kalau menurut saya jangan-jangan kitalah yang mengulamanisasi kriminal. Menganggap orang-orang menjadi ulama hanya karena sering berbicara soal agama. Padahal baru juga hijrah (pindah) gaya pakaian, baru juga baca satu dua kitab, gurunya cuma itu saja. Sudah mondok belum?

Ketiga, menjual kekayaan bangsa ke asing dan Aseng, saya malas menjelaskan tapi coba lihat bagaimana Freeport bersusah payah memperpanjang kontrak, lihat berapa kapal ikan tenggelam dan pertumbuhan ekonomi kita. Untuk yang terakhir, kita bisa menyimak penjelasan menteri ekonomi stabil. Untuk hal terakhir, kita bisa berdiskusi lebih jernih.

Kebohongan yang diulang, tetap bukan kebenaran

Seorang kawan pernah berujar lewat akun Instagram @aji_komik, belio berkata “Kumpulkan sepuluh orang kawanmu yang mengaku takut sama hantu. Lantas tanyakan pada mereka, ada berapa orang yang benar-benar pernah melihat hantu. Pasti tidak semuanya. Bahkan bisa saja tidak satupun”

Di situlah teori penciptaan teror dimainkan. Di ranah politik, kita kadang diajak takut akan sesuatu yang bahkan tidak ada. Seorang politikus kadang mencari-cari kesalahan lawannya atau bahkan menyebarkan prasangka yang belum tentu bisa dibuktikan kebenarannya, yang lebih buruknya adalah jika sudah membawa politik identitas berupa agama dan Tuhan.

Padahal membuat prasangka apalagi terang-terangan menciptakan kebohongan publik, sungguh itu kenistaan.

Saya cuma mau mengingatkan kepada kita semua tentang sabda Rasulullah tentang kebohongan, yakni “Barangsiapa mengatakan tentang seorang Mukmin sesuatu yang tidak ada padanya, Allâh akan menempatkannya di lumpur neraka sehingga dia mempertanggung jawabkan perkataannya (HR. Ahmad).

Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat al an’am ayat 21.

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ كَذَّبَ بِآيَاتِهِ ۗ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ

“Dan siapakah yang lebih zhalim/aniaya daripada orang yang membuat-buat suatu kedustaan terhadap Allâh, atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya orang-orang yang aniaya itu tidak mendapat keberuntungan (al An’am: 21).

Prof Quraish Shihab menjelaskan bahwa tidak ada seseorang yang lebih zalim kepada dirinya sendiri dan kepada kebenaran daripada seseorang yang membuat kebohongan atas Allah swt., menganggap bahwa Allah mempunyai anak atau sekutu dan mengingkari dalil-dalil yang membuktikan keesaan-Nya dan kebenaran para rasul-Nya. Lalu mereka juga zalim karena menyandarkan sesuatu yang tidak pantas kepada-Nya. Sungguh, orang-orang yang lalim itu tidak akan mendapatkan kebaikan di dunia maupun di akhirat.

Pertanyaannya pantaskah perebutan kekuasaan, partai dan isu 2019 lainnya disandarkan padaNya? Bahwa nafsu berkuasa yang membabi-buta kita miliki adalah atas ridhoNya? Semoga Allah senantiasa menjaga kita dan bangsa Indonesia dari fitnah keji perusak persatuan.

Guyonan Gus Dur

Soal perebutan kekuasaan yang melibatkan politikus senior tersebut, saya paling suka kisah saat KH. Abdurrahman Wahid a.k.a Gus Dur menjadi presiden. Meski saat awal perhitungan suara perolehan suara Gus Dur kalah, namun perlahan keadaan menjadi berbalik. Gus Dur mengumpulkan 60 suara lebih banyak. Gus Dur jadi Presiden! Dan lantunan sholawat badar pun bergema, Gus Dur dibantu berdiri dan dibimbing podium untuk disumpah menjadi presiden.

Lalu pasca turun jadi presiden, Gus Dur sempat berbagi pengalamannya menjadi presiden.

“Saya heran orang mau jadi Presiden saja harus keluar modal milyaran. Saya dulu jadi Presiden malah cuma modal dengkul. Itupun dengkulnya Amien Rais,” kelakar sang Guru Bangsa tersebut.

Bahkan Gus Dur konon turut meramalkan masa depan politikus senior tersebut yang baru-baru menyatakan siap maju jadi calon presiden. Begini kata Gus Dur “Amien gak bakalan bisa jadi Presiden karena untuk bisa jadi Presiden dibutuhkan kwalitas dan nilai yang A-plus bukan A-min hehe…..”

Lalu kita pun tertawa bersama. Wallahu’alam bishawab.

(islami.co/ suaraislam)