Ambon, Jakarta dan Palangkaraya

42
Ilustrasi

Sore itu Herman teman saya kepala cabang Cocacola di Ambon menelpon saya, dia baru 3 bulan ditugaskan disana. Saya ingat waktu menelpon nafasnya terengah dan suaranya putus-putus. Dia bercerita siang itu diambon terjadi perang agama, islam dan kristen sudah saling bunuh dan tak percaya, baru saja tadi di angkot ada perempuan hamil perutnya dibelah, dia terhenti bercerita ternyata diujung sana dia menangis.

Saya bertanya sekarang masalah dia apa, dia melanjutkan bahwa kondisi makin tidak aman, bagaimana dengan anak dan istrinya, saya langsung jawab pertama anak istri harus selamat dan segera pulangkan ke Semarang, cepat cari tiket nanti dari Surabaya saya yang urus, selanjutnya lapor ke kantor pusat dia harus bagaimana. Besoknya dia langsung menerbangkan anak dan istrinya, dan saya urusi sampai pulang ke Semarang, dalam hub telepon dia minta pendapat saya bagaimana aset perusahaan dan 45.000 krat cocacola yang digudang, saya kasi masukan kalau sampai 3 hari perusahaan tidak menjawab dengan tegas, maka tinggal saja semua, nyawamu lebih berharga dari cocacola. Akhirnya memang ditinggalkannya, karena hari itu juga sudah masuk penjarah yang begitu menggila memgambil apa saja di gudangnya.

Sampai Surabaya dia mampir kerumah, dan dia bercerita apa yang terjadi 5 hari sebelumnya. Malam itu ada derap suara sepatu tentara dibelakang rumahnya sekitar jam 1.00 an suara itu ada disana, dan 30 menit setelahnya ada suara riuh teriakan orang ” masjid kebakar “, rentetan kejadian itu melanda Ambon, Ternate dan nyaris nyeberang ke Manado, untung masyarakat Manado cepat sadar bahwa itu adu domba agama yang terstruktur dan didesign rapih oleh kekuatan diatasnya, mereka membuat spanduk dimana-mana, TORANG BASAUDARA”.

Puluhan dan mungkin ratusan tahun wilayah Ambon, Manado dan Maluku khususnya, adalah wilayah paling toleran bagi umat beragama disana, cerita kawan-kawan saya, kalau membangun masjid, keluarga yang kristen datang agar kubahnya mereka yang menyelesaikan, begitu juga saat keluarga kristen membangun gereja, yang muslim minta untuk bisa berkontribusi dalam menyelesaikannya. Malam takbiran semua angkot memasang beduk dan pengeras suara mereka membaur tidak bertanya apa agamanya, mereka hanya tau keluarga dan teman2 muslimnya sedang bersuka cita baru menyelesaikan puasa.

Jakarta dihajar via penistaan agama, walau tidak sampai gereja dibakar, justru masjid dijadikan mesin kebenjian sampai mayatpun dijadikan sasaran, akankah hal itu cuma muslim latah2an yg menjalankan, terlalu naif kita menerima itu sbg kebetulan, grand design dan pola yang nyaris sama sedang dijalankan, mereka menebar teror atas nama agama yang pernah mereka lakukan sebelumnya, siapa pelakunya, tak usah ditanya, anda bisa meraba, cuma sekarang antek2-antekya beda, kalau dulu banyak tentara, sekarang justru mereka memakai ulama agar Indonesia perang saudara dan Indonesia tidak utuh sebagai negara.

Palangkaraya, calon Ibu Negara, dari mereka banyak yang tak suka, oleh karenanya kita harus waspada jangan sampai di 95kan, peristiwa itu tidak pernah kita lupakan, modusnya bisa dibaca, caranya sama, lokasinya bisa beda namun pelakunya atau minimal deaignernya sama. Ambon, Jakarta, sekarang Palangkaraya, besok lusa bisa mana saja karena mereka terus berusaha agar bisa berkuasa.
Kita harus tentang mereka tidak pantas untuk Indonesia.

Iyyas Subiakto

(fbcombiakto/suaraislam)