Aktivis Gusdurian: Rizieq Nggak Usah Pulang, Indonesia Lebih Baik Tanpa Rizieq

Pimpinan FPI Rizieq Shihab bereaksi saat dicecar pertanyaan oleh awak media di Polda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (1/2). Rizieq Shihab akan diperiksa sebagai saksi kasus dugaan makar yang menjerat Sri Bintang Pamungkas. (Liputan6.com/Immanuel Antonius)

Aktivis Jaringan Gusdurian Syafiq Alielha menyambut gembira penundaan kepulangan pimpinan Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab ke Indonesia.

Sambil tertawa, ia mengatakan Indonesia akan menjadi negara yang lebih baik jika Rizieq tetap berada di Arab Saudi.

“Biarkan saja dia tidak pulang. Sepertinya itu bakal baik untuk Indonesia,” kata Syafiq kepada wartawan di Universitas Atmajaya, Jakarta Selatan, Rabu (21/2).

Pria yang akrab disapa Savic Ali itu menilai sejak didirikan pada medio 1998 lalu, FPI seringkali melakukan tindak kekerasan dan intimidasi yang meresahkan masyarakat.

“Perlu diingat bahwa Rizieq juga sudah dua kali dipenjara karena tindak kekerasan,” kata Savic.

Ia lantas mengenang pengalaman buruk dirinya terkait FPI.

Kata Savic, ia pernah diintimidasi dan dikepung oleh anggota FPI dengan alat tajam pada 1999 akibat menurunkan spanduk bertuliskan tuduhan gerakan mahasiswa disusupi komunis.

Saat itu, kata dia, banyak spanduk-spanduk yang menyatakan gerakan mahasiswa telah disusupi komunis.

“Saya dan kawan-kawan pernah dikepung FPI, karena ada teman kami yang mencabut spanduk black campaign antikomunis di depan sebuah kampus,” ujarnya.

“Eh, ternyata ada yang jagain dan mereka anggota FPI. Selang beberapa jam kami pun didatangi ratusan anggota FPI,” tuturnya.

Rizieq rencananya kembali ke Indonesia pagi tadi setelah berbulan-bulan berada di Arab Saudi. Dia menyatakan sudah menyiapkan tiket pulang, namun terpaksa dibatalkan karena sejumlah hal.

Pembatalan kepulangannya, kata Rizieq, setelah melakukan istikaharah. Namun ia juga meminta kepada para pendukungnya agar tidak kecewa dengan penundaan kepulangannya.

(cnnindonesia/suaraislam)