Aksi Sia-Sia 22 Mei Esok

Melihat komen di lapak Presiden, sayah tercenung. Buanyak sekali komen menghujat. Salah satunya tentang uang haji buat infrastruktur. Dan hoax, pemerintah tak punya dana untuk tambahan 10.000 kuota haji.

Iseng saya mengecek porsi saya, yang saat itu, daftar tunggu saya 17 tahun. Setelah dicek oleh anak saya, alhamdulillah daftar tunggu saya jadi berkurang 4 tahun. Jadi 13 tahun. Itu lho hasil dari tambahan kuota 20.000 yang didapat selama Jokowi memimpin, dan ini nyata. Kalo berita pemerintah tak punya uang untuk tambahan kuota itu, apa buktinya? Adakah jamaah yang gagal berangkat, seperti kasus First travel? Ndak kan?

Setiap berita yang kita terima, yang menuduh siapa saja, terutama pemimpin kita, yang telah bekerja keras untuk rakyatnya, sebaiknya kita buktikan dulu, minimal dari diri kita. Seperti halnya teriak curang2 dengan sedikit data yang tidak jelas kebenarannya, hanya bondo katanya. Saya juga membuktikan sendiri TPS di mana saya mencoblos. 01 kalah dengan selisih 53 suara. Setelah dicek di situng KPU, ya sama angkanya. 01 Tetap kalah, dengan jumlah yang sama. Ndak usah ndakik2 menyebarkan kecurangan dengan bondo gambar C1, yang ternyata hasil editan, sampai Magelang bisa mencelat ke Jatim.

Selisih suara sampai hari ini, 15,66 juta suara. Itu 15, 66 juta suara pemilih lho bukan horog2, enak aja menuduh curang KPU yang sudah bekerja keras, sampai banyak yang menjemput ajal.

Mereka teriak curang, tapi tidak mau menggunakan jalur hukum untuk membuktikan tuduhannya. Setidaknya buktikan minimal kecurangan 8 juta suara supaya Prabowo bisa menang. Bukannya malah menggerakkan pipel njae. Gini ini, repotnya kalo lawan mantan jendral bermental anak TK yang ngebet banget berkuasa. Kalo kalah, semua dibilang curang, baik pemerintah, KPU maupun MK, ngajak rakyat kecil untuk turun ke jalan, tapi dia dan elitenya malah minggyat ke Brunei.

Selain kecurangan, sebelumnya konstitiennya disulut kemarahannya dengan narasi2 hoax aset dijual ke china lah, atau serbuan tenaga kerja china. Saya heran sama yang masih percaya sama berita itu. Padahal yang nyebar berita itu, adalah kubu yang bilang nenek2 digebukin, padahal habis oplas. Bahkan capresnya menggeser Haiti mencelat sampai ke Afrika. Serta keprocot luas Malaysia lebih kecil dari Jawa Tengah. 
Itu adalah sinyal yang dikirim oleh Zat yang ngecat terong, bahwa mereka suka bohong, dan tak dapat dipercaya.

Saya kasihan sebenarnya, sama orang yang mau turun tanggal 22 Mei itu, karena mereka itu hanyalah korban yang berhasil dibodohi oleh elite haus kekuasaan.

Kalo saya jadi Pak Tito, saya cokok korlapnya, kemudian diajak ngopi2 di cetarbeg. Kacaukan logistiknya, kemudian sterilkan jalan Imam Bonjol, Monas dan Istana Negara. Sedangkan massa, beserta logistiknya dialihkan ke tempat2 wisata, seperti bonbin. Supaya mereka bisa refreshing, dan tidak ngamuk lagi.

Itu harapan saya, emak2 yang ingin damai, dan tidak diganggu oleh copras capres, yang seharusnya sudah selesai 22 Mei. Kemudian bersatu lagi, bergandengan tangan dengan semua anak bangsa menuju Indonesia yang lebih bermartabat.

Aamiin

Sumber : FB Liza Novijanti

(redaksiindonesia/suaraislam)