Ahok vs Evie Effendi: Dua “Penista” di Ujung Nasib yang Berbeda

Seorang pasien yang kebanyakan minum obat tanpa mendapatkan kontrol dari seorang dokter biasanya bisa terkena overdosis, atau penggunaan obat yang salah pakai tidak sesuai dengan penyakit yang diidap. Itulah kira-kira analogi orang yang berbicara masalah agama tapi tidak didasari oleh batasan-batasan standar dalam memahami agama, terutama kefatalan tafsir al-Qur’an yang diotak-atik gathuk sesuai selera lidahnya.

Kalau kita lihat zaman yang kian pelik dan penuh pekik ini: pekik takbir, bid’ah, kafir dan pekik-pekikan lainnya, banyak sekali Ustadz model banderol KW atau kualitas KW tapi banyak digemari anak muda. Kalau dalam buah, istilahnya adalah Mateng Karbitan. Itulah kira-kira, menurut saya yang terjadi pada kasus saat ini yang dialami oleh Evie Effendie.

Terkadang banyak tipe-tipe orang yang berbeda dalam menyampaikan agama, memang sesuai “bahasa kaumnya” atau lokalitas geografis dan budayanya. Seorang Evie Effendi, saya lebih nyaman menempatkan sosoknya sebagai seorang Stand Up Komedian atau seorang motivator. Kenapa? Karena sangat jelas berbeda dengan Ustadz-Ustadz lainnya yang memang bertahun-tahun belajar di Pondok Pesantren. Secara kualitas pemahaman agama atau teks yang dikuasai.

Dalam kasus ini, Evie bisa dianggap telah dan sangat menistakan agama, lebih dari kasus penistaan yang dialamatkan ke Ahok. Memang keduanya menyampaikan ayat yang berbeda, tapi Ahok tampak mempunyai dasar argumen atas al-Maidah ayat 51, dibanding Evie Effendie dalam menafsirkan dan memahami surah al-Dluha ayat 7.

Jika kita bicara Tafsir, tentunya harus mengacu pada pendapat para Ulama Mufassirin (Ahli Tafsir). Rujukan kita amatlah banyak, ada tafsir al-Thabari, Ibn Katsir, At-Tahrir ibn ‘Asyur, Tafsir Munir, al-Mizan, Jalalain, dan yang kontemporer adalah tafsir Al-Mishbah karya Prof. Quraisy Shihab.

Dalam al-Maidah ayat 51 yang disampaikan Ahok sebetulnya adalah perkataan Gus Dur beberapa tahun lalu, pertanyaannya, apakah Gus Dur punya dasar atas Tafsir itu? Jelas, ada dasarnya banyak sekali para Mufassirin yang menafsirkan “Auliya” bukan pemimpin tetapi teman dekat.

Muhammad ibn Jarir al-Thabari, misalnya, menafsirkan kata Auliya’ dengan anshar wa hulafa’ (penolong-penolong dan aliansi-aliansi atau teman-teman dekat) (al-Thabari, Jami‘ al-Bayan 8: 507). Terjemahan yang mendekati dengan penjelasan al-Thabari adalah terjemahan M. Quraish Shihab atas kata tersebut: ‘para wali’ (teman dekat dan penolong) (Q. Shihab, al-Qur’an dan Maknanya, h. 117). Singkat kata, baik al-Thabari maupun Quraish Shihab tidak menafsirkan kata tersebut dengan pemimpin-pemimpin pemerintahan.

Apa yang dikatakan oleh Ahok bisa jadi tidak salah, karena ada dasar tafsir ulama yang menjelaskannya, dan memang di surah al-Maidah 51 itu ikhtilaf pendapat para Ulama tentang makna Auliya’. Sangat berbanding jauh dengan apa yang dikatakan Evie Effendie dengan tafsirnya yang sangat tidak mendasar dan ngaco.

Evie Effendie dalam konteks ini telah melakukan Tahrif (pembohongan, atau penyelewengan makna al-Qur’an) seharusnya ini yang dikatakan sebagai penista agama yang teramat dahsyat di zaman ini. Tafsir Evie Effendie sangat tidak punya dasar yang jelas dan tidak punya legitimasi otoritatif dari para Ulama tafsir. Dan yang paling penting sangat tak layak dia dipanggil Ustadz. Bisa kita cek di semua kitab Tafsir, baik itu Tafsir Tanwirul Maqbas, Ibnu Katsir, as-Shawi, dan lain sebagainya tidak ada satu Tafsir pun yang menjelaskan apa yang dikatakan Evie Effendi.

Jadi, bisa dikatakan, semua Ulama Tafsir sepakat bahwa di ayat itu Nabi Muhammad tersesat di perjalanan bukan sesat secara akidah atau keyakinan seperti yang dimaksud Evie.

Evie mengatakan, “Setiap orang itu SESAT awalnya, ضآلا فهدى. Muhammad TERMASUK (Termasuk Sesat). Maka kalau ada yang Muludan (Maulid Nabi), ini memperingati apa ini? Memperingati kesesatan Muhammad”.

Dalam diksi ini kalau kita pahami, Evie menafsirkan Sesat adalah lawan kata dari Hidayah (petunjuk) berarti sudah jelas yang dimaksud menurutnya adalah sesat secara keyakinan bukan dalam keadaan di perjalanan seperti yang disepakati oleh para ahli tafsir. Dalam konteks ini, Evie telah menyelisihi semua pendapat Ulama Tafsir dan ini kebodohan dan kesesatan yang luar biasa bahasa zaman now “penistaan”.

Namun, sayang beribu sayang, nasib berkata lain. “Sang Penista” yang pertama seorang gentelmen tak takut dan berani mengikuti proses dan prosedur hukum yang ada dengan keikhlasan dirinya yang dicaci-maki hingga didemo berjilid-jilid yang ditunggangi kepentingan politik juga, tapi tetap ia gagah pemberani. Berbeda dengan Ustadz karbitan satu ini, sekali diserang langsung mlempem playing victim dengan jurus sendu-sendu nangis di depan kamera dan minta maaf.

Seharusnya hukumnya lebih berat, karena sangat jelas penistaan dan pembodohan untuk Ustadz yang baru hijrah ini seperti pengakuannya di banyak media, dan bisa jadi tahu tentang agama tanpa ilmu yang memadamai. Tapi, ya bagaimana lagi? [dutaislam.com/gg]

Rikal Dikri Muthahhari, Alumnus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

(dutaislam/suaraislam)