3 Pemeluk Agama (Islam) yang Lebay, Berikut Ciri-cirinya!

IIustrasi

“Menjalankan ritual agama harus berdasarkan pada manhaj dan muqtadhal hal-nya (sesuai prosedur dan situasi-kondisi). Karena kesesuaian dengan manhaj& muqtadhal hal adalah bentuk beragama yang beradab. Intinya, beragama itu musti lahir dari ketundukan yang berubah menjadi eloknya perangai, bukan dari fanatisme yang menjadi simbol-simbol yang cacat nilai.”

Akhir-akhir ini, nampaknya umat islam menjalankan agamanya cukup keterlaluan, atau dalam bahasa kekinian disebut lebay. Islam, sebagai sebuah ajaran, makin kesini terlihat makin tergerus dan seolah-olah dipaksakan untuk “tunduk” kepada [kepentingan] pelakunya. Akibatnya, umat muslim justru yang “mengatur” agama, bukan agama yang mengatur mereka. Oleh sebab itu, pelaku agama di masa ini terbagi menjadi tiga model. Pertama, penggila atribut agama. Kedua, pemuja simbol agama. Ketiga, generasi yang terlambat lahir.

Penggila atribut agama adalah orang-orang yang menjalankan ajaran Islam hanya terbatas pada lahiriahnya saja. Artinya, yang mereka ambil dari Islam adalah labelnya, bukan nilai apalagi uswahnya. Menurut mereka, tolak ukur keislaman dan keimanan terdapat pada label syar’i yang melekat pada pelakunya. Jadi, segala yang dipakai itu harus islami, mulai dari busana syar’i (jubah, gamis cadar, niqab), celana cingkrang, kaos, cincin dan topi syar’i (yang bertuliskan kalimat tauhid) hingga tampilan fisik pun mesti syar’i yakni berjenggot panjang mengayun. Bila demikian, maka siapapun dapat disebut muslim sejati atau muslim kaffah.

Adapun maksud pemuja simbol agama adalah mereka para pemeluk agama yang menaruh ajarannya cukup dalam simbol saja bukan dalam amal rutinitas dengan harapan mendapatkan simpatisan dan reward duniawi yang menggiurkan. Mereka—–dalam beberapa kondisi—-lebih menonjolkan aksinya yang sok islami dengan membawa simbol agama (baca: bendera) dan menyuarakan pekikan takbir di mana-mana demi kepentingan tertentu. Sementara maksud generasi yang terlambat lahir adalah mereka umat muslim yang memahami ajaran agamanya dengan sangat kaku, tertutup, dan fundamentalis. Generasi ini selalu mempermasalahkan ritual baru yang tidak diajarkan atau tidak terdapat di zaman Nabi. Tujuannya adalah ingin mengembalikan umat Islam dan ajarannya seperti sebagaimana di zaman awal Islam dulu (Nabi dan para sahabat). Dengan sangat keras, mereka menolak segala bentuk pembaharuan dalam agama di zaman modern ini. Intinya, harus sesuai dan seperti yang dilakukan Muhammad 14 abad yang lalu. Maka mereka seperti “bayi” yang terlambat lahir yang kagetan dengan fenomena kekinian. Sebab mereka masih mempertahankan dan menuhankan cara berpikir generasi kuno yang usang dan tidak update, sedangkan zaman ini terus mengalami perubahan dan menuntut siapapun untuk bisa berpikir lebih progresif lagi bijaksana.

Ketiga tipe/model beragama di atas adalah bentuk beribadah yang keterlaluan atau lebay. Dan pada kesempatan yang sama, bisa melahirkan aksi perpecahan yang luar biasa, bahkan bibit-bibit ekstrimisme juga tumbuh dari pelaku agama yang memiliki ketiga tipe tersebut. Oleh sebab itulah, di awal tulisan ini saya katakan; “Menjalankan ritual agama harus berdasarkan pada manhaj dan muqtadhal hal-nya (sesuai prosedur dan situasi-kondisi)”. Artinya, menjalankan amalan agama harus berdasarkan pada aturan dan sesuai dengan situasi – kondisinya. Tentu, amalan yang tidak berlandaskan pada aturan (baca: Syariat) adalah tertolak. Begitu pula amalan yang dilakukan dengan mengabaikan situasi dan kondisi—–meski tidak sampai tertolak——namun memicu perseteruan dengan pihak-pihak yang terlibat di dalamnya.

Tipe pertama misalnya, saya katakan terlalu keterlaluan. Mengapa?. Karena penilaian keislaman/keimanaan seseorang yang dilihat dari label yang dipakainya adalah sebuah “pemaksaan kehendak pribadi”. Di samping itu, yang wajib dalam beragam adalah berperilaku islami bukan berlabel islami. Dengan demikian, siapa saja boleh mengenakan fashion busana apapun yang trendy di masa kini, misal jeans, levis kaos oblong “Jogja”, batik Pekalongan dan lain-lain asalkan menutup aurat dan dipastikan bisa menjaga jati diri dan harga diri pemakainya. Oleh sebab itulah, dalam Al-Qur’an Allah memerintahkan untuk menjadi muslim kaffah dalam arti perangainya bukan atribut busananya (QS. al-Baqarah/2/208).

Sama halnya dengan tipe kedua yang selalu memuja simbol keagamaan sebagai tanda paling islami, juga saya sebut amat keterlaluan. Lagi-lagi karena inti ajaran agama adalah ketundukan dan ketaatan. Saya khawatir bila agama dipahami sebatas pada simbolnya, orang-orang hanya akan berlomba-lomba mengumpulkan simbol agama (baca: bendera tauhid dan pekikan takbir/tahlil) sebagai syiar dan kebanggaan semata bukan ditancapkan dalam hati dan tindakan. Maka tidak heran bila kemudian bendera agama bisa berubah fungsi menjadi “umbul-umbul” jalan atau penggembira kampanye dan pekikan takbir/tahlil akan menjadi yel-yel regu yang hanya untuk membangkitkan semangat sesaat. Padahal, simbol agama tersebut, baik bendera tauhid atau pekikan takbir/tahlil semestinya termanifestasi dalam amal rutinitas harian, bukan musiman dan karena ada motif tertentu. Lebih parahnya lagi bila kedua simbol agama tersebut ternodai akibat disalahgunakan atau diabaikan begitu saja yakni seperti diinjak-injak, diletakkan di tempat kotor, atau menjadi barang bisnis yang menguntungkan sebelah pihak. Tentu, ini adalah sebuah tindakan yang menerjang tatakrama. Maka dari itu, di awal tulisan ini saya katakan: “Karena kesesuaian dengan manhaj& muqtadhal hal adalah bentuk beragama yang beradab.

Tidak kalah keterlaluannya adalah tipe ketiga yakni umat muslim yang terlambat lahir yang fundamentalis itu. Mengapa?, ya karena generasi ini —- meski sangat berpegangan pada manhaj Syariah—– namun mereka melupakan pentingnya muqtadhal hal (kondisi situasi) di mana suatu ibadah dikerjakan. Akibatnya, mereka terbelenggu pada pemikiran yang cupet, dangkal dan mudah menyalahkan orang yang berbeda dedenganny dengan dalih semua ibadah yang baru (bid’ah) itu tertolak sebab tidak pernah dicontohkan atau tidak pernah ada di zaman Nabi. Padahal, kalau kita mau menilik sejarah, banyak amalih-amaliah yang sebenarnya lahir bukan atas contoh dari Nabi atau tidak terjadi di zaman beliau, umpannya seperti yang dilakukan Bilal bin Rabah yang mengerjakan shalat dua rakaat sesuai wudhu dan Nabi sendiri tidak melarangnya malah justru mendoakannya menjadi ahli surga.

Atau seperti kebijakan Umar bin Khattab yang memerintahkan untuk shalat tarawih secara berjamaah di zamannya dan Usman bin Affan yang mencetuskan proyek pengkodifikasian Mushaf al-Qur’an yang, di mana kedua kebijakan ini disetujui oleh setiap generasi dan terkategori sebagai amal yang terpuji atau dalam bahasa al-Syafi’i disebut dengan Sunnah Hasanah. Itulah mengapa, pengertian bid’ah yang dipahami mereka ini, [yakni] generasi yang terlambat lahir perlu diluruskan. Sebab bid’ah yang benar adalah amaliah baru yang tidak berlandaskan pada dalil agama. Bila berlandaskan pada hujah yang sah disebut bid’ah hasanah. Sementara yang bertentangan dengan hujah disebut bid’ah sayyi’ah. al-Syafi’i berkata tentang hal ini,

من سن سنة حسنةفله اجر واجر من عمل بها ومن سن سنة سيئة فله وزر ووزر من عمل بها

“Barangsiapa yang membuat inovasi yang baik maka baginya satu pahala dan pahalanya orang-orang yang mengerjakan inovasi itu. Dan barangsiapa yang membuat inovasi yang buruk maka baginya satu pahala dan pahalanya orang-orang yang mengerjakan inovasi buruk itu.”

Alhasil, agama Islam itu mudah, janganlah dipersulit. Agama itu dinamis, janganlah diperkaku. Agama itu suci, janganlah di kotori. Dan agama itu rahmat, janganlah dibuat keras dan garam. Kita semua adalah saudara.

Katib
Depok, 4 April 2019

Sumber: FB Zakiyal Fikri Muchammad

(suaraislam)